Skip to main content

Sibuknya Perdagangan Kuno di Indonesia



Perdagangan antarpulau antar negara telah dilakukan bahkan jauh sebelum Era Kolonialisme, Uang Dirham dari Samudera Pasai bahkan telah menjadi media pertukaran resmi dalam perdagangan internasional. Bahkan Barus di Sumatera sudah dikenal sebagai pelabuhan penting jauh sebelum lahirnya Yesus Kristus.

Sekitar abad ke-15 (setelah Majapahit runtuh), ada kerajaan Islam yang muncul di nusantara, dan yang juga akan melanjutkan tradisi perdagangan dan pelayaran di nusantara. Meskipun Majapahit runtuh, pelabuhan Tuban dan Gresik (di pantai utara Jawa) terus bertindak sebagai penyalur transit dan distribusi yang penting, yaitu sebagai gudang dan distributor rempah-rempah dari Indonesia Timur (Maluku). Bahkan, Tuban berkembang menjadi kota terbesar di Jawa. Perkembangan perdagangan dan pelayaran di perairan Jawa memacu munculnya pelabuhan baru seperti pelabuhan Banten, Jepara dan Surabaya.

Pada abad ke-15 hingga awal abad ke-16, rute perdagangan di Asia Tenggara dicirikan oleh dua jalur utama, yaitu rute China-Malaka dan rute Maluku-Malaka. Jalur perdagangan antara Maluku dan Malaka mendorong perdagangan antar pulau dan pengiriman di Indonesia. Jalur Maluku-Malaka penuh sesak karena banyaknya pedagang yang hilir mudik. Orang Jawa, misalnya, ke Maluku membawa beras dan bahan makanan lain untuk ditukar dengan rempah-rempah. Mereka pergi ke Malaka, menambahkan beras, membawa rempah-rempah dari Maluku, dan sebaliknya dari arah Malaka membawa barang dagangan dari luar (pedagang Asia). Berkat komoditas "beras" dan lokasi strategis antara Maluku dan Malaka, Jawa menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam perdagangan dan pelayaran di nusantara. Khususnya setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, Jawa, yang nantinya akan memainkan peran penting dalam perdagangan dan pelayaran di nusantara. Khususnya keberadaan pelabuhan Banten atau pelabuhan dagang, yang akan mengambil peran penting dalam perdagangan di Jawa dan nusantara.



Litografi pelabuhan Banten menunjukkan bahwa Pelabuhan Banten 
adalah pelabuhan penting dalam perdagangan internasional.

Cerita itu adalah salah satu materi bahasan di History of Java Museum Yogyakarta.
Museum baru ini memberikan informasi dan pendidikan dalam konten yang disajikan, tetapi tetap tidak meninggalkan aspek artistik dan hiburan.

Di museum berbentuk piramida ini, konsep eduarteinment memang menjadi andalan, mereka juga mengadaptasi teknologi untuk memfasilitasi pemahaman konten, seperti penggunaan Augmented Reality dan film 3D. Di bagian lain, bahkan museum ini menawarkan pengunjung untuk berinteraksi foto diri dengan ruang diorama tematik.



Pengunjung dapat membeli makanan ringan atau menikmati makanan di "Malioboro Food Street" sebuah konsep sudut makanan yang dimiliki oleh museum ini, atau bahkan menikmati pertunjukan seni yang diadakan di panggung besar di bagian belakang museum.

Sebuah penjelajahan yang lengkap bukan? jadi tunggu apa lagi, siapkan diri Anda untuk menjadi pengunjung museum History of Java, dan nikmati menjelajahi masa lalu dengan menyenangkan.

Comments